Truth of Moment Yustinus…… Anakku, Pejuangku

Home » Truth of Moment Yustinus…… Anakku, Pejuangku
photo-1434030216411-0b793f4b4173

                                                                    Karya Nunung Nursalamah, S.Pd

                Takkan habis cerita tentang si anak ini. Nama panjangnya Yustinus, biasa dipanggil Ucu. Anak asli Papua dari suku Asmat. Baru 4 bulan aku membersamai mereka di sekolah ini. Ya, SD Negeri Pomako 1. Salah satu sekolah yang mayoritas siswanya adalah putra asli Papua dari 2 suku yakni Suku Kamoro dan Suku Asmat. Sekolah kami terbuat dari papan-papan yang disusun rapi. Jika air mulai pasang, maka akan banyak anak-anak mandi ataupun sekedar memancing ikan dilingkungan sekolah.

                Perjalanan menuju sekolah dari tempat tinggal kami sekira 40 menit ditempuh dengan motor. Dengan kecepatan rata-rata 70 sampai 80 km/jam. Mempelajari keunikan karakter anak didik adalah hal pertama yang harus aku lakukan. Karna ini adalah pengalaman pertama bagiku menjadi guru dengan berinteraksi langsung bersama anak asli Papua.

                Papua identic dengan suara keras dan sedikit keras kepala (dong bilang kepala batu hehheheh). Tapi tidak dengan Ucu. Papua  rasa Jawa he..he…he… Bicara dengan Ucu harus ekstra pasang telinga. Karna Ucu pu suara jika diibaratkan mode HP maka (mode silent) pelan dan nyaris tak terdengar. Ucu anak yang sangat santun dan penurut. Jadi selain sebagai pelajar, Ucu merangkap sebagai pejuang nafkah bagi keluarganya.

                Dihari tertentu, dia sudah dipastikan tidak akan hadir disekolah. Bukan bolos sih, tapi lebih kepada menjalankan kewajiban anak untuk berbakti pada orang tua. Tidak  hanya Ucu, tapi hampir semua siswa yang duduk dibangku kelas 5 dan 6 disekolah kami. Jika yang perempuan pergi mencari karaka (kepiting bakau), maka yang laki-laki akan bekerja menjadi buruh TKBM (tenaga kerja bongkar muat) di Pelabuhan.

                Ucu istimewa. Entah kenapa, anak ini sangat takut (segan ) untuk membaca namaku jika tidak diawali dengan kata Ibu. Berkali-kali membaca puisi yang kubuat, dia hanya membaca judul dan lanjut karya Ibu (padahal tertulis karya Nunung heheheh). Aku belajar banyak rasa syukur dari mereka. Mereka bukan generasi rebahan sebagaimana anak-anak yang tinggal di kota. Pergi sekolah dengan perut kenyang dan pulang sekolah sudah disambut makanan yang tersaji dimeja. No…!! sama sekali jauh dari kata nyaman. Pagi sebelum berangkat ke sekolah, mereka biasanya hanya akan putar kopi atau teh. Sepulang sekolah sekira pukul 11 siang, mereka  sekedar ganti baju dan lanjut kerja sebagai buruh di Pelabuhan dengan menumpangi truk atau mobil-mobil container. Jika mereka kerja dari pagi dan tiba sebelum jam makan siang, maka mereka akan mendapat jatah makan siang. Namun jika mereka tiba dipelabuhan pukul 12 lebih, tidak adalagi jatah makan siang untuk mereka.

                Kebanyakan dari anak-anak ini makan nasi hanya sekali. Bisa sore atau malam hari. Jadi jangan heran jika aktivitas mereka sibuk di luar rumah berbanding terbalik dengan kita kebanyakan. Jika sore menjelang maghrib kita akan masuk dan beraktivitas dalam rumah, maka mereka adalah kebalikan dari itu. Berbincang dengan Ucu : “Cu, kamu mulai kerja jadi TKBM kelas berapa?”. Dia jawab: “empat, Ibu”. Itu kamu udah kuat angkat barang sampai 50 kg? tanyaku lagi.”tidak Ibu! Awal membantu gantikan Bapak jadi TKBM, hanya angkat yang ringan saja macam kardus-kardus begitu”. Heemmm, iya Cu! Makanya kamu harus belajar serius supaya tidak cape jadi kuli lagi. Kamu harus janji sama Ibu untuk sukses dalam cita-cita ya…(Ucu pu cita-cita mau jadi Polisi). iya Ibu jawabnya.

                Ada pengalaman lucu ketika mengajar mereka. Sekolah kami dikelilingi oleh pohon mangrove. Satu hari aku bertanya pada anak-anak : coba kalian perhatikan dan sebutkan tumbuhan yang ada disekitar kita. Salah satu siswa menjawab : Pohon garam Ibu!. Hah? Apa itu pohon garam?tanyaku lagi. (sambil menunjuk pohon mangrove yang ada disamping sekolah) yang itu Ibu! jawabnya. Akupun tertawa karna baru mendengar istilah itu (oke..oke..jadi itu namanya tanaman bakau ya atau bahasa latinnya Mangrove bukan pohon garam) jelasku. Selain pohon garam ada juga pohon gula (tebu), lemon hutan (jeruk bali) dan nasi kosong (nasi putih tanpa lauk maksudnya) istilah baru yang aku pelajari dari mereka.

                Kembali ke Ucu. Selain penurut dan pintar, dia juga anak yang pemberani. Beberapa kali aku jumpa dengan orang mabok dipinggir jalan (jujur ini kadang bikin spot jantung wkwkwkwkwk), tapi dia selalu meyakinkan aku; tidak apa-apa Ibu, jalan saja. Kita antar dan jaga Ibu. “emang kamu berani sama dia? (yang mabok lebih besar badannya dari Ucu). “berani Ibu! Takut untuk apa? Jawabnya santai.

Pengalaman pertama juga dalam hidup Ucu adalah Ketika dia ku tunjuk mewakili sekolah pada ajang lomba Olimpiade Sains Nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten. Selalu aku motivasi dia: Cu, ingat! Targetnya ngga harus menang. Tapi kamu sudah berani mewakili sekolah saja, Ibu sudah bangga. Kalaupun nanti kamu belum dapat juara, setidaknya apa yang kamu buat sekarang bisa jadi cerita untuk teman-teman semua. Pengalaman itu mahal Cu! Kamu harus belajar dari pengalaman, tegasku lagi.

Ada satu adat dari Suku Asmat yang kudapat dari Ucu. Jika anak laki-laki pergi dengan anak perempuan (istilah gaulnya bucin), maka mereka harus selesaikan secara adat yakni baku tukar makanan (yang laki-laki harus panggul sagu ke tempat perempuan, dan yang perempuan harus mencari ikan atau siput untuk dibawa ke pihak laki-laki).

Sepenggal cerita dari anak Asmat. Sebelum tulisan ini selesai, tentunya aku sudah ijin terlebih dahulu sama Ucu (Cu, Ibu guru ijin membuat tulisan tentang kamu dan sekolah kita). Seperti biasa dia hanya tersenyum dan menjawab: iya Ibu, tidak apa-apa.

Pomako, 9 Juni 2022

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Image 2022-05-09 at 3.21.50 PM