Tak Akan Ada Pejabat Tanpa Guru
Mohamad Asep Juanda (Asjun)
SMA Negeri 20 Bandung
Pernyataan seorang pejabat tinggi negara yang menyebut profesi guru sebagai “beban negara” telah memantik kegelisahan publik. Ucapan tersebut bukan sekadar menyinggung perasaan para pendidik, tetapi juga mencerminkan betapa kelirunya sebagian cara pandang terhadap pendidikan dan peran guru dalam kerangka pembangunan bangsa. Kata-kata ini seolah menempatkan profesi guru hanya sebagai angka dalam tabel anggaran, bukan sebagai fondasi peradaban.
Padahal, mari kita perjelas satu hal mendasar: tidak akan pernah ada menteri keuangan, dokter, insinyur, pengusaha, bahkan presiden, tanpa peran seorang guru di awal perjalanan mereka. Guru bukanlah beban. Guru adalah fondasi. Mereka aktor utama dalam proses pembentukan sumber daya manusia yang selama ini digembar-gemborkan sebagai aset paling berharga bangsa. Menyebut guru sebagai beban sama saja dengan menutup mata terhadap kenyataan sejarah bahwa semua tokoh, pejabat, dan pemimpin yang hari ini dihormati, lahir dari ruang kelas sederhana tempat seorang guru berdiri.
Ironisnya, negara kerap menyebut pendidikan sebagai prioritas, namun pada saat yang sama masih ada pejabat yang menganggap pendidik sebagai penguras anggaran. Pandangan seperti ini jelas keliru. Menggaji guru bukanlah pemborosan, melainkan investasi jangka panjang. Investasi ini mungkin tidak segera terlihat dalam laporan ekonomi kuartalan atau angka pertumbuhan, tetapi hasilnya nyata dalam kualitas peradaban. Butuh waktu bertahun-tahun untuk melihat hasil kerja guru—sebuah generasi yang unggul, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Guru hadir bukan hanya sebagai penyampai materi pelajaran. Di berbagai pelosok negeri, mereka sering menjadi pembimbing moral, motivator, bahkan juru penyelamat masa depan anak-anak. Dalam keterbatasan sarana, mereka tetap berdiri di depan kelas, mengajarkan ilmu, nilai, dan harapan. Bayangkan seorang guru di pelosok pedesaan, yang menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mengajar di ruang kelas berdinding bambu. Dengan gaji pas-pasan, mereka tetap setia pada panggilan nurani: memastikan anak-anak mendapat hak yang sama untuk belajar.
Di sisi lain, kita kerap mendengar jargon bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju kemajuan. Namun jargon itu terasa hampa bila kesejahteraan guru terus diabaikan. Bagaimana mungkin kita berharap lahir generasi unggul jika orang yang mendidiknya dipandang sebelah mata? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang daya saing global jika fondasi pembentukan sumber daya manusianya justru dianggap beban?
Jika bangsa ini sungguh ingin berdiri sejajar dengan negara maju, maka tidak ada jalan pintas. Segalanya harus dimulai dari guru. Dukungan, penghargaan, serta kesejahteraan yang layak adalah kunci. Guru yang sejahtera akan lebih fokus, lebih bersemangat, dan lebih mampu mengembangkan potensi siswa. Sebaliknya, guru yang terus diperlakukan sebagai beban hanya akan melahirkan kekecewaan yang berimbas pada kualitas pendidikan itu sendiri.
Menghormati guru bukan sekadar soal retorika saat Hari Guru Nasional. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan nyata: penyediaan pelatihan berkelanjutan, akses teknologi, sarana pembelajaran yang memadai, serta gaji yang layak. Guru yang didukung dengan baik akan mampu mencetak generasi yang berdaya saing, kreatif, dan inovatif. Generasi seperti inilah yang akan menjadi penopang kemajuan bangsa di masa depan.
Menyebut guru sebagai beban sama saja dengan meruntuhkan martabat bangsa sendiri. Karena tanpa guru, tidak ada pejabat yang bisa berdiri di podium kekuasaan. Tanpa guru, tidak ada ilmuwan yang menemukan teknologi canggih. Tanpa guru, tidak ada wirausahawan yang menggerakkan ekonomi. Semua bermula dari seorang pendidik yang dengan sabar mengajarkan huruf demi huruf, angka demi angka, nilai demi nilai.
Sudah saatnya kita menghentikan narasi yang merendahkan profesi guru. Sebaliknya, kita perlu menempatkan mereka sebagaimana mestinya: pilar utama pembangunan bangsa. Guru bukan sekadar bagian dari sistem pendidikan, melainkan roh yang menghidupinya. Mereka adalah pelita yang menerangi jalan bangsa menuju masa depan.
Maka, bila ada yang menyebut guru sebagai beban, sejatinya ia sedang menafikan jasa orang yang membentuk dirinya hingga bisa duduk di kursi kekuasaan. Pernyataan semacam itu bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya, karena bisa merusak penghargaan masyarakat terhadap profesi guru.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati gurunya. Jepang pascaperang, misalnya, membangun kembali negerinya dengan menempatkan pendidikan dan guru sebagai prioritas utama. Dalam waktu relatif singkat, mereka mampu bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Indonesia pun bisa melangkah ke arah yang sama, asalkan tidak lagi menganggap guru sebagai beban, melainkan sebagai aset paling berharga bangsa.
Sudah saatnya kita menyadari: tak akan ada pejabat tanpa guru. Tanpa mereka, jabatan menteri hanyalah ruang kosong yang tak pernah berarti.