Spiritualitas Guru – Fatmawati

Home » Spiritualitas Guru – Fatmawati
photo-1434030216411-0b793f4b4173

Catatan Ringkasan Seorang Guru

Hari sabtu tanggal 24 Desember 2022, SATUGURU menyelenggarakan acara Ngobrol Urusan Penting atau yang lebih dikenal dengan istilah Nguping 5 SATUGURU. Hadir dalam acara ini Dr.H. Dedi Nurhadiat, M.Pd. selaku Pimpinan Redaksi SATUGURU dan Prof. Dr. Yudho Giri Sucahyo, Phd. selaku Ketua PANDI. Acara ini menghadirkan beberapa narasumber yaitu Dr. Cepi Riyana, M.Pd., seorang Direktur Sistem dan Teknologi Informasi serta Dosen Teknologi Pendidikan UPI, Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., seorang Pakar Filsafat Islam dan Dosen UIN Yogyakarta, dan Dr. Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd., Guru Blogger Indonesia. Sedangkan Host yang memandu acara ini adalah Bambang Purwanto, S.Kom.Gr. (Mr. Bams), Pimpinan Redaksi SATUGURU dan Ir. Neni Utami Adiningsih, MT., seorang guru, dosen, penulis, pengelola Rumah Literasi Alif dan ketua IGI Bandung

Tema acara Nguping 5 SATUGURU mengangkat tentang Spiritualitas Guru.

Orientasi Pendidikan di Indonesia dalam konteks pendidikan formal, informal dan nonformal adalah Pendidikan Karakter. Hal ini terlihat pada pembukaan UUD 1945 yang mencantumkan aspek Ketuhanan dalam kalimat “Atas berkat rohmat Alloh Yang Maha Kuasa”, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan tujuan pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, agar potensi peserta didik berkembang menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Selain itu munculnya fenomena indikasi degradasi moral yang terjadi di masyarakat sehingga kebutuhan masyarakat untuk mengembangkan karakter sangat tinggi, sedangkan di sisi lain banyaknya guru yang tidak mempunyai panggilan jiwa (passion) menjadi seorang guru. Bagaimana kita membangun karakter, budi pekerti, sikap, dan spiritualitas guru ?

Secara etimologis, spiritualitas berasal dari kata spiritus artinya nafas dan juga bermakna kejiwaan, hati. Dasar dari spiritualitas adalah Ketuhanan dan keilmuan.

Spiritualitas terdiri dari tiga pilar, yaitu :

1.    Spirit, yaitu membangun semangat.

2.    Actual, yaitu mengaktualisasikan diri dalam bentuk produktifitas dan menghasilkan karya

3.    Kualitas, yaitu menghasilkan produk dan karya yang berkualitas bukan sesuatu yang asal-asalan

Spiritualitas dibangun dengan cara pengembangan diri, pengembangan diri yang dilatih oleh orang lain, dan mencoba dengan pengalaman langsung di masyarakat.

Spiritualitas Guru Indonesia tercermin dalam sikap shiddiq yang berarti benar dan jujur, tabligh yang berarti menyampaikan pada orang lain, amanah yang berarti dapat dipercaya, dan fathonah yang berarti memiliki kecerdasan karena selalu belajar.

Spiritualitualitas bisa didapatkan dalam diri kita sendiri tanpa harus mencarinya kemana-mana. Kita dapat mencari dan menemukan jati diri dalam diri kita sendiri. Menulis merupakan bagian dari spiritualitas guru karena dengan menulis dapat menemukan dirinya sebagai hamba Alloh. Kualitas guru dapat ditingkatkan dengan cara membaca, menulis dan berbicara yang dilakukan tanpa beban tanpa berpikir dari aspek-aspek keuntungan saja melainkan sebagai sebuah kebutuhan.

Spiritualitas tidak hanya sekedar konsep tapi harus diimplementasikan sehingga ada perpaduan antara niat yang lurus dan ikhlas dengan produktifitas yang tinggi. Hal ini tidak hanya dilakukan dengan beribadah saja tapi bisa diimplementasikan dalam bentuk karya yang dapat memberikan kebahagiaan ketika karya kita memberikan manfaat bagi orang lain. Sebagai contoh dengan menulis seseorang dapat memberi manfaat bagi diri sendiri juga dapat memberi kebermanfaatan bagi orang lain.

Berilmu itu akan tuntas jika diiringi dengan perilaku, tidak sekedar konsep saja.

Kekuatan ilmiah kita melebihi kekuatan spiritual kita. Sering kita sibuk pada hal-hal yang tidak penting sedangkan hal-hal yang penting sering terlewatkan. Maka hal yang harus dilakukan, yaitu melakukan refleksikan diri tentang hal-hal yang sudah kita dikerjakan.

Banyak guru yang memposisikan diri sebagai informan atau seorang yang selalu memberikan informasi. Guru adalah wadahnya ilmu pengetahuan sehingga ilmu tersebut akan bermanfaat atau tidak tergantung pada wadahnya. Jika wadah ilmu tersebut bersih maka ilmu yang akan disampaikan kepada orang lain akan memberikan manfaat bagi orang lain tapi setinggi dan sebaik apapun ilmu pengetahuan jika wadah ilmunya tidak bersih dan kotor maka ilmu tersebut bisa saja memberikan kemudhorotan bagi orang lain. Agar wadah tersebut tetap bersih maka seorang guru harus bersih jiwanya.

Peran spiritualitas yang sering dilupakan oleh seorang guru adalah uswah atau role model dengan cara imitasi yaitu memberi contoh atau teladan, vibrasi yaitu menimbulkan daya tarik tersendiri, walaupun tanpa memberi contoh tapi orang yang didekatnya akan mengikuti apa yang diucapkan maupun dilakukan, dan inspirasi yaitu mampu melahirkan gagasan baru yang lebih baik dan lebih canggih dari yang dicontohkan.

Bagaimana caranya agar guru sehat secara spiritualitas ?

1.         Meaning, yaitu  hidup yang penuh makna dan sadar akan tujuan. Harus memiliki tujuan hidup dan sadar makna tujuan hidupnya. Sehingga guru bisa diandalkan oleh muridnya.

2.         Values, yaitu hidup yang menghargai nilai, kepercayaan dan tatanan. Harus komitmen pada nilai yang dianutnya, komitmen pada keyakinannya, patuh pada ajaran agamanya (relegius).

3.         Transcendens, yaitu hidup dengan menerima dimensi tertinggi yang melampaui diri. Hidup yang berketuhanan. Perilaku yang dilakukan menunjukkan perilaku orang yang berketuhanan.

4.         Connecting yaitu hidup dengan kesadaran keterhubungan dengan yang lain. Setiap manusia tidak hidup sendirian perlu bantuan orang lain dan punya kewajiban untuk mendukung orang lain. Perlu kemampuan menjalin kerjasama dan hubungan dengan orang lain

5.         Becoming, yaitu hidup sambil melakukan refleksi, memahami diri, membuka diri, untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, selalu ingin menjadi lebih baik.

Manifestasi Spiritualitas Guru

1.         Alim dan amil, yaitu orang yang memiliki ilmu yang dalam sekaligus pelaku pertama dari ilmu tersebut. Tidak sekedar menyuruh orang lain, tetapi ia melakukan terlebih dahulu sebelum menyuruh orang lain.

2.         Ikhlas (billah, lillah, fillah), yaitu melakukan sesuatu karena Alloh, untuk Alloh, dan sesuatu yang di lakukan itu merupakan aktifitas yang diridhoi oleh Alloh. Yang diluar itu akan muncul dengan sendirinya seperti kesejahteraan dan lainnya.

3.         Uswah Hasanah, yaitu contoh atau teladan yang baik bagi murid-muridnya

4.         Qoulan syadida, yaitu sesuatu yang diucapkan adalah benar dan selalu berkata jujur.

5.         Qoulan baligho, yaitu sesuatu yang disampaikan menyentuh hati muridnya.

6.         Qoulan karima, yaitu sesuatu yang diucapkan adalah yang baik-baik saja, selalu berbicara yang baik.

7.         Qoulan ma’rufa, yaitu sesuatu yang diucapkan adalah sesuatu yang baik dan diketahui serta sesuai dengan situasi dan kondisi.

8.         Qoulan Layyina, yaitu berkata dengan lemah lembut.

9.         Qoulan Maisyuro, yaitu sesuatu yang disampaikan menggunakan kata-kata yang bisa dipahami oleh murid-muridnya sesuai dengan kapasitasnya.

Guru itu siapa ?

secara bahasa guru adalah satu tanggungjawab, satu amanat dibalik anugerahnya Alloh pada diri seseorang. Seseorang yang diberi anugerah ilmu apapun baik dari pendidikan formal maupun dari pengalaman hidup memiliki tanggung jawab dan amanat untuk menyampaikannya pada orang lain. Guru yang baik adalah bersikap seperti murid yaitu belajar sepanjang hayat, mau belajar, tidak hanya mengajar dan terbuka pada masukan dan saran. Murid yang baik juga bersikap seperti guru yang sedang belajar mencari ilmu. Cara belajar yang paling efektif adalah dengan cara mengajar.

Menurut ki Hajar Dewantara, jadikanlah setiap orang sebagai guru, jadikanlah setiap tempat sebagai sekolah, dan jadikanlah setiap peristiwa sebagai pelajaran. Jadi kita bisa mengambil pelajaran dari dari siapa pun, di mana pun dan dari peristiwa apapun.

Guru yang paling sejati adalah diri kita sendiri. Belajar yang paling utama adalah belajar ke dalam, membaca diri kita sendiri, membaca jiwa kita sendiri, semakin kita mendalami diri kita semakin kita mengerti dan paham tentang Tuhan. Hati dan batin yang bersih akan menjadi guru sejati kita. Caranya adalah sebagai berikut :

1.    Membersihkan diri dari dosa dan maksiat agar diri kita bersih sehingga ilmu yang tinggi dan luar biasa akan memberikan manfaat bagi orang lain.

2.    Membersihkan diri dari keterikatan dari hal apapun.

3.    Membersihkan diri dari ego dari diri kita sendiri seperti sombong, tinggi hati dan lainnya.

4.    Ikhlas karena Alloh.

Bagaimana cara mendidik yang spiritual ?

Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu :

1.    Emerging, yaitu memiliki kesadaran atau polapikir yang tepat bahwa spiritual itu adalah sesuatu hal yang sangat penting.

2.    Applying yaitu belajar menjadi guru yang spiritual. Dalam filsafat orang Sunda Belajar daluang yaitu belajar dari yang tertulis dan belajar dari luang yaitu belajar dari pengalaman, semakin memahami diri maka kita akan semakin mengenal Tuhan serta belajar dari pada urang yaitu belajar dari orang lain.

3.    Integrating yaitu membiasakan dan mempraktekkan dengan semangat.

4.    Transforming yaitu mengaktualisasikan diri kita dengan memberikan kontribusi pada orang lain dan berkarya.

Kurikulum itu penting, tapi guru lebih penting. Kurikulum ibarat mobil, sedangkan guru adalah pengemudinya. Sebagus apapun mobil tersebut jika cara mengemudinya salah maka akan kesulitan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Kurikulum yang baik jika dimplementasikan dengan baik maka akan mencapai tujuan yang diharapkan.

Mari kita berkomitmen yang dimulai dari langkah-langkah kecil untuk menjadi pencerah, penuntun dan contoh bagi orang lain. Spiritualitas guru adalah sebuah keharusan. Mari kita menjadi guru yang memiliki spiritualitas dengan semangat, produktifitas dan kualitas.

Sumber : fatmawati.my.id

Spread the love

4 thoughts on “Spiritualitas Guru – Fatmawati

  1. Luar biasa, tulisan yang menjawabi kebutuhan zaman
    Semoga, apa yang menjadi cita kita akan menjadi fakta untuk menetaskan generasi yang jujur, tabligh, dapat dipercaya, dan cerdas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Image 2022-05-09 at 3.21.50 PM