Guru Tapi Teman

Home » Guru Tapi Teman
photo-1434030216411-0b793f4b4173

Menjadi guru yang disenangi sekaligus disegani murid-muridnya, sepertinya menjadi impian semua pengajar di dunia ini. Tapi justru 2 tujuan itu adalah 2 hal yang saling kontradiksi. Disenangi dan disegani. Mendapatkan kedua hal tersebut bagi seorang guru tidaklah mudah. Karena di kebanyakan kasus, seorang guru terpaksa harus memilih salah satu; disenangi, ATAU disegani.

Kenapa begitu? Karena ternyata tidak semua orang, atau dalam kasus ini, guru, memiliki kemampuan untuk mengenali batasnya. Batas untuk menjadi figur teman yang asyik, tapi sekaligus tetap selalu diingat bahwa ia harus dihormati sosok ke-guru-annya.

Yang terjadi malah, ketika seorang guru berusaha menempatkan diri sebagai seorang sosok teman yang asyik untuk murid-muridnya, tapi lupa menulis garis batasnya, sehingga murid-muridnya jadi keasyikan, terlena akan figur teman yang mereka dapatkan di depan kelas, lalu lupa akan figur gurunya.

Sebaliknya, ada yang berusaha menjadi sosok guru yang disegani murid-muridnya. Sebegitu keras ia berusaha, sampai lupa akan kebutuhan dasar murid-muridnya; diayomi dan dibimbing. Sosoknya bukan lagi disegani, melainkan ditakuti. Ditakuti benar-benar, yang membuat para muridnya malas untuk mencari bimbingan di bawah naungannya.

Lalu bagaimana caranya bagi seorang guru untuk mendapatkan kedua hal tersebut? Disenangi dan disegani?

Yang pasti tidak bisa didapatkan dengan instan. Kalau makan mie instan saja butuh proses, apalagi menjadi guru yang baik. Seperti halnya menjadi orangtua, menjadi guru yang baik butuh waktu, pengalaman, trial and error, serta pastinya kesabaran.

Walaupun tidak ada textbook, ataupun rumus, maupun bahkan formula yang pasti untuk menjadi guru yang disenangi dan disegani. Tapi mungkin ada beberapa cara yang bisa dicoba dan terbukti sudah dipraktekkan banyak guru-guru yang menjadi favorit murid-muridnya. Apa saja?

  • Mengenal baik mata pelajaran yang dibawakan

Ini hal yang paling mendasar yang harus dimiliki seorang pengajar. Tapi perlu ditekankan lagi, bahwa untuk mengambil hati peserta didik, hal pertama yang harus dilakukan adalah harus terlihat sangat menguasai materi yang disampaikan. Sehingga para peserta didik akan dengan mudah menghormati gurunya.

  • Membaca karakter kelas

Walaupun satu kelas terdiri dari banyak kepala dan warna kepribadian, tapi setiap kelas pasti memiliki karakternya sendiri, tergantung mayoritas yang ada di kelas tersebut. Ada kelas yang diisi oleh sebagian besar murid yang pendiam sehingga harus diberi pecutan semangat yang lebih, ada kelas yang diisi oleh mayoritas murid aktif yang harus diimbangi keaktifannya atau bahkan agak direda.

  • Memahami Masing-Masing Karakter Murid

Puluhan murid yang ada di kelas, harus dikenal dan ditangani satu persatu. Bagaimana bisa? Apakah mungkin? Nah disinilah faktor waktu dan kesabaran berperan. Bertemu hampir setiap hari dalam kurun waktu beberapa jam selama beberapa tahun, jika seorang guru betul-betul memaksimalkan kesabaran dan kejeliannya dalam memahami murid-muridnya, semua tidak ada yang tidak mungkin.

  • Melukis Garis Batas

Disinilah yang paling tricky. Bagaimana cara melukis garisnya? Dimana garisnya? Nah, hal ini bisa dilakukan dari awal pertama bertemu para peserta didik. Pertemuan pertama, kesan pertama, di situ semua dipertaruhkan. Bagaimana pembawaan diri seorang guru untuk menampilkan citra bahwa ia adalah seorang yang berpengetahuan luas yang pantas untuk menjadi kurir ilmu yang mumpuni, sekaligus seorang sosok pengajar yang menarik cara mengajarnya dan kepribadiannya. (tnp)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Image 2022-05-09 at 3.21.50 PM