Kemerdekaan Sosok Guru, Kemerdekaan Belajar Anak

 Kemerdekaan Sosok Guru, Kemerdekaan Belajar Anak

Proses belajar membutuhkan kemerdekaan, maka dari itu kemerdekaan harus melekat pada subjek yang melakukan proses belajar yakni anak maupun orang dewasa. Maka proses menuju kemerdekaan harus mampu dan berani melibatkan banyak dukungan dari berbagai pihak. Kemerdekaan merupukan suatu hal yang harus diperjuangkan bukan hanya sekadar kepatuhan atau perlawanan.

Hal yang sering terjadi selama ini adalah banyak guru yang merasa disalahkan. Dalam segala keadaan, guru dikatakan sebagai kunci dalam aspek pendidikan. Realitanya hal ini bukanlah kalimat yang lengkap. Secara umum, kunci merupakan solusi dari segala permasalahan. Guru harus menghadapi anak yang mengalami kurang siapsedia dalam menjalani pembelajaran dengan kondisi yang kurang mendukung seperti halnya kondisi lapar, mempunyai aktivitas yang menguras tenaga, mengalami hukuman yang berlebihan.

Kegagalan keluarga, kurang terpenuhinya sarana prasarana keluarga merupakan permasalahan yang membutuhkan pendidikan disemua aspek, bukan hanya tanggung jawab guru. Mengatakan sosok guru sebagai kunci merupakan suatu hal yang akan menjerumuskan dan menggagalkan sosok guru untuk mengalami kegagalan.

Sosok guru memang memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan, namun karena besarnya tuntutan dalam berbagai hal tidak akan mampu mencapainya karena guru tidak memiliki hal yang asasi yakni kemerdekaan. Kemerdekaan sosok guru akan mampu menyalurkan dan menumbuhkan kemerdekaan belajar anak dan demokrasi di negeri ini.

Yang terjadi saat ini adalah guru mengalami tekanan. Maka dari itu yang semestinya pendidikan dijadikan sebagai pemberdayaan justru di balik dijadikan kontrol. Di banyak negara, profesi guru membutuhkan proses yang selektif untuk orang orang pilihan, dalam menjalani profesinya pun didukung dengan kemudahan dan kemerdekaan.

Kemerdekaan merupakan bagian penting dari proses pengembangan guru, karena melalui kemerdekaan kompetensi guru mengalami perkembangan yang optimal. Guru yang merdeka adalah mampu membebaskan anak, guru yang kreatif adalah guru yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri kepada anak, guru yang mau belajar adalah guru yang pantas mengajar.

Meskipun demikian dibutuhkan sikap kehati-hatian untuk tidak membebankan kemerdekaan pada individu guru tertentu. Karena banyak faktor yang mempengaruhi kemerdekaan seorang guru. Kemerdekaan selalu terkait dengan situasi yang ada di sekitarnya maka kemerdekaan itu akan dicapai bukan dimiliki.

Hal yang dipercayai guru adalah hal yang sangat penting untuk menentukan kemerdekaan. Pengalaman guru akan masal lampu baik dulu sebagai murid maupun sebagai guru akan menentukan pandangannya tentang kemerdekaan bagian yang penting dari profesinya. Hal yang paling sulit dari perubahan pendidikan adalah pengalaman guru akan masa lampau sebagai murid kurang mengalami kemerdekaan sehingga hal ini memengaruhinya untuk memperjuangakan kemerdekaan sebagai sosok guru.

Kalaupun guru setuju akan aspirasi kemerdekaan, dalam penerapannya akan kurang optimal karena pandangan guru terhadap anak masih belum mengalami perubahan. Banyak guru yang masih menganggap anak kurang mampu belajar mandiri, perlu adanya tekanan untuk mendisiplinkan.

Tujuan dari pendidikan pun masih sering disederhanakan misalnya pemberian kualifikasi dalam pendidikan, penekanan pada fungsi pengetahuan spesifik dari mata pelajaran tertentu. Kalaupun guru membicarakan tentang tujuan pendidikan seringkali mengalami kurang spesifik. Misalnya menumbuhkan anak yang suka belajar akan tetapi tidak sesuai apa yang dipelajari anak.

Pengalaman pribadi seorang guru lebih berpengaruh dalam menumbuhkan kepercayaan dibandingkan pengalaman profesionalnya. Maka dari itu perubahan pendidikan akan mengalami kesulitan karena kurang merasakan pentingnya melakukan perubahan dalam sistem yang dirasa tidak mengalami permasalahan. Sebagian guru merupakan orang yang selama ini mengalami sukses dalam sistem konvensional dan cenderung patuh pada apa yang dilaluinya (Pajares, 1992).

Pengalaman masa lalu sangat mempengaruhi kebiasaanya, sebagai contoh kebiasaan mengikuti perintah atasan pembatasan dalam mengembangkan kreativitas karena yang dilakukan harus sesuai dengan aturan. Maka guru cenderung cemas menghadapi kebijakan. Disalahpahami menjadi standar, pilihan diartikan sebagai resiko inilah budaya yang dihadapi guru Indonesia saat ini. Maka sangat sulit untuk mencapai kemerdekaan belajar yang sesungguhnya. Maka sudah tidak asing lagi jika guru dikatakan sebagai fasilitator pengetahuan.

Hal yang sering muncul dalam kemerdekaan adalah umur dan generasi adanya perbedaan tanggung jawab tidak dipengaruhi oleh faktor itu. Guru merdeka ada yang sudah berumur dan ada yang muda ada yang dari generasi berbeda walaupun proses menuju kemerdekaan mengalami perbedaan cara. Guru yang sudah cukup lama dalam mengemban tugas sudah melewati berbagai reformasi kemudian memahami mana yang harus dipilih.

Sedangkan guru muda akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan pendidikan yang sedang mengalami perubahan. Hal yang menyamakan pandangan mereka adalah terkait resiko dari kemerdekaan itu sendiri. Guru yang mendapat dukungan penuh dari rekan karya maupun atasan pasti akan mudah dalam menjalankan kemerdekaan, begitu pula sebaliknya. Peranan hubungan baik dengan pemangku kepentingan anak, orang tua, guru, kepala sekolah dll sangatlah penting. Karena hal ini merupakan modal utama guru dalam menjalankan kemerdekaan pendidikan.

Kemerdekaan merupakan kunci dari pengembangan guru yang memiliki orientasi pada tujuan, mandiri dalam belajar dan memiliki sikap yang reflektif selama berproses. (tnp)

Spread the love

Yudhi Kurnia

redaksi@satuguru.id

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *