Dari Bima ke Karbala: Inspirasi Muhammad Zian Fahrezi untuk Generasi Qurani
Prestasi besar sering lahir dari ketekunan yang dibangun sejak kecil. Kisah itulah yang ditunjukkan oleh Muhammad Zian Fahrezi, qori cilik asal Bima, Nusa Tenggara Barat, yang berhasil meraih Juara 1 kategori anak-anak pada MTQ Internasional Al-Ameed ke-3 di Karbala, Irak pada Februari 2026.
Di usia yang baru menginjak 11 tahun, Zian telah menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat mengantarkan seorang anak Indonesia berdiri di panggung dunia. Lantunan ayat yang dibacanya tidak hanya memikat dewan juri internasional, tetapi juga membawa kebanggaan bagi Indonesia.
Bakat yang Tumbuh dari Tradisi Qur’ani
Zian berasal dari Bima, sebuah daerah yang dikenal memiliki tradisi kuat dalam seni tilawah Al-Qur’an. Ia lahir dalam keluarga yang dekat dengan dunia qira’at.
Kakek buyutnya, KH Abubakar Husein, dikenal sebagai qari internasional dari Bima. Tradisi itu kemudian dilanjutkan oleh kakeknya TGH Ramli Ahmad dan ayahnya Ahmad Azka Fuad, yang juga aktif dalam dunia tilawah.
Lingkungan keluarga seperti ini membuat Zian tumbuh dengan kedekatan yang alami terhadap Al-Qur’an. Sejak kecil, ia terbiasa mendengar lantunan ayat suci, mempelajari tajwid, memperbaiki makhraj huruf, hingga menguasai berbagai maqamat dalam tilawah.
Namun, warisan tradisi saja tidak cukup. Prestasi Zian juga lahir dari disiplin latihan yang panjang, bimbingan guru yang tekun, serta dukungan keluarga yang konsisten.
Ketika Suara Anak Indonesia Menggema di Dunia
Dalam ajang MTQ Internasional Al-Ameed di Karbala, peserta datang dari berbagai negara dengan kualitas tilawah yang sangat tinggi. Penilaian tidak hanya mencakup ketepatan tajwid, tetapi juga keindahan suara, penguasaan lagu tilawah, kefasihan, serta penghayatan terhadap makna ayat.
Di tengah kompetisi yang ketat itu, Zian tampil dengan penuh ketenangan. Suaranya jernih, penguasaan maqamatnya matang, dan bacaannya menunjukkan kedalaman penghayatan
Prestasi tersebut membuktikan bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi duta nilai-nilai Al-Qur’an di tingkat dunia.
Inspirasi Besar bagi Dunia Pendidikan
Bagi dunia pendidikan, kisah Zian memberikan pesan yang sangat penting: prestasi tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui ekosistem pendidikan yang kuat—keluarga, guru, dan lingkungan belajar yang mendukung.
Guru memiliki peran penting dalam menemukan, menumbuhkan, dan mengarahkan potensi anak. Tidak semua siswa akan menjadi qari internasional, tetapi setiap siswa memiliki potensi unik yang dapat berkembang jika mendapatkan bimbingan yang tepat.
Kisah Zian juga mengingatkan kita bahwa pendidikan karakter dan spiritual sama pentingnya dengan pendidikan akademik. Ketika anak-anak dibiasakan mencintai nilai-nilai luhur—seperti disiplin, kesabaran, dan ketekunan—mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
Menyalakan Semangat Generasi Qur’ani
Di tengah tantangan era digital, ketika perhatian generasi muda sering terpecah oleh berbagai distraksi, kisah Muhammad Zian Fahrezi menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Al-Qur’an tetap memiliki daya tarik yang kuat.
Bagi para guru, kisah ini adalah inspirasi untuk terus menyalakan semangat belajar siswa. Bagi orang tua, ini adalah bukti bahwa pembiasaan sejak dini dapat melahirkan prestasi luar biasa.
Dan bagi generasi muda Indonesia, kisah Zian menunjukkan satu hal penting: bahwa mimpi besar dapat dimulai dari langkah kecil—dari satu huruf yang dibaca dengan benar, dari satu ayat yang dihafal dengan cinta.
Dari Bima ke Karbala, perjalanan Muhammad Zian Fahrezi bukan hanya tentang kemenangan dalam sebuah lomba. Ia adalah cerita tentang bagaimana suara seorang anak Indonesia dapat membawa pesan Al-Qur’an melintasi batas negara—dan menginspirasi generasi berikutnya untuk terus belajar, berprestasi, dan menjaga cahaya Al-Qur’an di hati mereka. (redis)