Membuka Potensi Pikiran dengan Belajar -2 (Pra Syarat Ilmu)

Home » Membuka Potensi Pikiran dengan Belajar -2 (Pra Syarat Ilmu)
photo-1434030216411-0b793f4b4173

Prasyarat Ilmu

Seperti disebutkan sebelumnya link , ilmu tidak akan datang dengan sendirinya. Bahkan kalaupun kita mengejar dan mencarinya, ia juga tidak hadir jika kita tidak membuka diri untuk kedatangannya. Dengan demikian, tugas dan sebagai prasyarat utama untuk menyambut ilmu pengetahuan ini adalah membuat diri kita layak untuk mendapatkannya. Lalu, bagaimana caranya?

Dalam hikayat, Imam Syafi’ie pernah menghadap gurunya bernama Waqi’, dan menyatakan bahwa ia mengalami kesulitan untuk menghafal pelajaran. Imam Waqi’ kemudian berujar: “Ilmu pengetahuan adalah cahaya Tuhan. Dan cahaya itu tidak akan diberikan kepada mereka yang berbuat maksiat.”

Imam Syafi’ie

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Imam Syafi’ie

Hikayat ini menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sakral, suci. la ibarat cahaya yang menerangi jalan kehidupan manusia. Namun, karena keberadaannya yang sakral tersebut, orang tidak mungkin mendapatkannya jika ia tidak membersihkan dirinya. Bagaimana mungkin sesuatu yang suci akan berdiam dan menerangi di tempat yang tidak bersih? Ilmu tidak akan bertahan dan bernilai bagi mereka yang suka berbuat kejahatan.

Tentu saja orang bisa berkilah, bahwa mereka yang suka berbuat kejahatan bukanlah orang-orang yang tidak berpengetahuan. Sebaliknya, mereka justru terampil menggunakan pengetahuannya untuk melakukan tindakan yang melawan hukum dan nilai-nilai kebajikan. Orang yang korupsi misalnya, dapat dipastikan bukanlah orang-orang yang tidak sekolah, melainkan orang-orang yang justru telah mengenyam jenjang pendidikan yang cukup tinggi. Pada titik

“Beware of false knowledge; it is more dangerous than ignorance.”

-George Bernard Shaw

itu, benarkah ilmu pengetahuan tidak dimiliki oleh mereka yang berbuat kejahatan (maksiat)?

Benar adanya bahwa pengetahuan dan informasi bisa dimiliki oleh siapapun. Tidak peduli orang itu jahat ataupun baik, Namun, pengetahuan yang menjadi ilmu yang dapat memberikan cahaya bagi kehidupan, tidak akan dimiliki oleh mereka yang gemar berbuat kejahatan. Ilmu yang menerangi hidup, ilmu yang menjadi cahaya, sejatinya adalah ilmu yang membawa nilai-nilai kebaikan. Hal inilah yang sulit untuk didapatkan jika kita tidak membersihkan diri dengan perbuatan yang baik pula.

Membuka diri terhadap ilmu pengetahuan dengan demikian adalah membuat diri kita siap untuk menerimanya. Jika ilmu itu adalah cahaya Tuhan, maka tugas kita adalah menjauhi perbuatan yang buruk agar cahaya tersebut tidak terhalang untuk masuk ke dalam diri kita. Membuka diri terhadap ilmu pengetahuan juga dapat dipahami sebagai upaya menumbuhkan kesadaran untuk terus belajar, tanpa mengenal tempat dan waktu. Di manapun, kapanpun, dan dari manapun ilmu bisa didapatkan.

Selain itu, Imam Syafi’le juga pernah menyebutkan 6 (enam) hal yang menjadi syarat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, yakni:

Pertama, kecerdasan. Perlu ditekankan, bahwa pada dasarnya tidak ada yang bodoh di antara kita. Setiap orang, saya, anda, mereka, adalah cerdas. Apa yang membedakan antara satu sama lain hanyalah gaya belajarnya, jenis kecerdasannya, dan kemampuan masing-masing untuk memaksimalkan kinerja otaknya. Karena itu, apa yang dimaksud oleh Imam Syafi’ie dengan kecerdasan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, adalah kita harus mengenal bagaimana cara kerja otak kita dalam menangkap informasi sehingga bisa diolah secara tepat.

Kedua, kegigihan. Mencari ilmu bukanlah proses yang mudah, karena itu rasanya tidak perlu dikatakan lagi bahwa kita perlu semangat dan kegigihan dalam menjalaninya. Bayangkan jika proses mencari ilmu itu semudah yang dikatakan, maka setiap orang pastilah sudah menjadi Einstein di bidangnya masing masing. Menghafal rumus Matematika tentu bukan seperti memakan coklat. Melatih ejaan bahasa asing tidaklah sesederhana menyanyikan lagu Noah band. Bahkan, kita dituntut untuk belajar bagaimana cara belajar yang tepat sebelum kita belajar tentang berbagai hal yang ingin kita kuasai.

Ketiga, kesabaran. Hasil yang baik tidak akan pernah hadir  dalam ketergesaan. Begitupun ilmu pengetahuan. Kesabaran sangat dibutuhkan dalam memahami sesuatu. Mempelajari sesuatu dengan tergesa-gesa, tidak runut, tidak menguasa dasarnya karena ingin cepat selesai, hanya akan membuat proses belajar menjadi sia-sia. Kesabaran ini juga menunjukkan tingkat kesungguhan niat kita dalam mengerjakan segala sesuatunya. Demikian juga dengan kegiatan mencari ilmu. la membutuhkan kesabaran, yang berarti juga memerlukan kesungguhan untuk menjalaninya. Sungguh-sungguh di se bukan berarti bahwa kita harus senantiasa mengerutkan dahi dalam belajar. Dalam belajar kita boleh menggunakan permainan, atau suasana yang penuh keceriaan, bahkan hal itu pula yang justru dianjurkan, karena membuat kita semakin mudah menangkap pelajaran. Namun, meski diseling permainan dan dalam kondisi yang menghibur, niat dan semangat kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak boleh main-main. Hanya mereka yang penuh kesungguhanlah yang akan mendapatkan hasil yang menggembirakan. Sebuah pepatah Arab klasik misalnya menyatakan: “man jadda wajada (barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia-lah yang mendapatkan). Dan “man shobaro zhofiro” (siapa yang bersabar, la-lah yang beruntung).

Keempat, ongkos. Adalah sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahwa pendidikan pada hari ini mahal harganya. Sekolah tidak pernah benar-benar gratis, meski pemerintah sudah menyusun peraturan agar biaya pendidikan digratiskan. Benar bahwa belajar bisa dilakukan tanpa harus mendaftar di sekolah ungggulan. Belajar bisa di mana saja, kapan saja, dan dari apa saja yang ada di sekitar kita. Namun, apa yang kita dapatkan dari belajar yang disertai dengan ongkos yang dipersiapkan, jelas akan berbeda hasilnya dengan belajar sekadarnya. Dana yang cukup sangat diperlukan untuk mendapatkan tingkat pendidikan yang baik. Oleh karena itu, meski ini bukan kabar yang baik bagi mereka yang kekurangan, persiapkan sedari dini dana yang cukup untuk ongkos pendidikan.

A loving heart is the beginning of all knowledge.

-Thomas Carlyle

Kelima, bergaul dengan guru. Ilmu semakin mudah didapatkan jika kita berdekatan dengan orang-orang yang senang membicarakan pengetahuan. Siapapun yang bisa memberikan kita pengetahuan, maka ia adalah guru bagi kita. Bergaul dengan guru, dengan demikian, jangan diartikan bahwa kita harus berada di sisi bapak atau ibu guru yang kita, melainkan bagaimana menempatkan diri kita dalam lingkungan yang bisa memberikan kita informasi, wawasan, dan ilmu pengetahuan.. Buku pun bisa menjadi “guru” dan teman yang sangat bermanfaat bagi kita dalam mencari ilmu. Oleh karena itu, wajar kiranya jika dikatakan “khairu jaliisin fi kulli makaanin kitaabun” (sebaik-baiknya teman di manapun kita berada adalah buku).

Keenam, waktu. Tidak ada yang menjadi profesor sejak lahir. Setiap orang dilahirkan dalam kondisi yang tidak mengetahui apa-apa. Kemampuan kita tumbuh dan berkembang seiring usia dan waktu yang kita habiskan untuk belajar. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk belajar, maka semakin banyak pula pengetahuan yang kita dapatkan. Sebaliknya, semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk bermain-main, maka semakin banyak pula kesia-siaan yang kita temukan.

Aku Rela di Penjara asalkan Bersama buku, karena dengan buku aku bebas.

–Mohammad Hatta

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp Image 2022-05-09 at 3.21.50 PM