Menembus Batas Usia
Di sebuah ruang sidang akademik di Universitas Gadjah Mada, seorang pemuda berdiri dengan tenang. Usianya baru 25 tahun. Wajahnya masih menyimpan kesan muda, nyaris seperti mahasiswa sarjana yang baru lulus. Namun hari itu, ia menyandang gelar doktor di bidang fisika—gelar akademik tertinggi yang bagi banyak orang terasa begitu jauh dan nyaris mustahil.
Namanya adalah Rizky Aflaha.
Perjalanannya tidak dimulai dari sesuatu yang spektakuler. Ia bukan tokoh viral, bukan pula anak ajaib yang sejak kecil dielu-elukan media. Ia memulai seperti banyak anak muda lainnya: belajar, mengikuti perkuliahan, menghadapi ujian, dan berproses. Namun ada satu hal yang membedakannya—ia tidak berjalan tanpa arah. Ia tahu bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, dan ketika peluang itu hadir, ia memilih untuk tidak ragu.
Setelah menyelesaikan studi sarjana dengan cepat, ia mengambil langkah berani melalui program percepatan akademik. Jalan itu tentu tidak mudah. Ritmenya cepat, tuntutannya tinggi, dan tekanan datang dari berbagai arah. Di ruang-ruang diskusi ilmiah, ia sering menjadi yang termuda. Tatapan heran, bahkan keraguan, kadang menyertainya. Sebagian orang mungkin bertanya dalam hati: “Apakah ia benar-benar mampu?”
Alih-alih tersinggung, ia memilih membuktikan. Bukan dengan perdebatan, melainkan dengan karya. Penelitian demi penelitian ia selesaikan. Publikasi ilmiah demi publikasi ia hasilkan—jauh melampaui syarat minimal kelulusan. Keraguan orang lain tidak ia lawan dengan emosi, tetapi dengan konsistensi.
Namun hidupnya bukan hanya tentang laboratorium dan jurnal internasional. Ia tetap menikmati olahraga, berorganisasi, bahkan mendaki gunung. Di tengah kesibukan akademik, ia menjaga keseimbangan. Ia memahami bahwa menjadi hebat bukan berarti kehilangan sisi kemanusiaan. Ia belajar mengatur waktu, membatasi distraksi, dan memilih mana yang membangun masa depan.
Kisahnya bukan sekadar cerita tentang usia muda yang meraih gelar doktor. Ia adalah cerita tentang keberanian mengambil peluang. Tentang kepercayaan diri di tengah keraguan. Tentang kesungguhan dalam menjalani proses.
Apa yang bisa kita pelajari?
Bahwa usia bukanlah batas mutlak. Bahwa latar belakang bukanlah vonis. Bahwa kecepatan bukanlah soal terburu-buru, tetapi soal kesiapan dan fokus. Yang terpenting, bahwa mimpi tidak akan bergerak jika kita tidak berani melangkah.
Kisah Rizky Aflaha mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun sering dilupakan: kesempatan hanya berarti jika kita siap menyambutnya. Dan kesiapan itu dibangun setiap hari—dari disiplin kecil, dari keberanian kecil, dari keputusan kecil yang konsisten.
Mungkin tidak semua orang akan menjadi doktor di usia 25 tahun. Namun setiap orang punya “panggungnya” masing-masing. Punya ruang untuk bertumbuh, punya kesempatan untuk melampaui ekspektasi. (redis)