ADAT DENDAM, PERMUSUHAN, DAN TAWURAN

Oleh Eka Rosmawati, M.Pd.
Bukan hal baru jika kita menyimak berita tentang pertengkaran, perkelahian, bahkan tawuran. Sebagai manusia yang diberi akal pikiran sehat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sangat wajar jika kita memikirkan tentang hal tersebut; tentang mengapa, apa penyebab, dan apa solusinya.
Masyarakat kita yang dikenal berbudi pekerti halus dan ramah, seiring perubahan zaman dan dorongan kebutuhan hidup, tampak banyak yang berubah kebiasaan dan karakternya. Sebagai contoh, budaya tersenyum, menyapa, dan mengucapkan salam jarang terlihat lagi dilakukan oleh sebagian orang dewasa. Ada semacam pemikiran bahwa jika kita menyapa dengan kalimat ‘sedang apa, mau ke mana, dari mana’ seperti yang biasa dilakukan orang Sunda, jadi dirasa ingin mengetahui urusan orang lain. Istilah kekiniannya disebut ‘kepo’. Oleh karenanya, penggalakan penanaman kebiasaan salam, senyum, dan sapa sebagai bagian dari pendidikan karakter merupakan upaya baik dari pemerintah untuk mengembalikan budaya bangsa yang berharga dan bermanfaat bagi kerukunan dan kelangsungan kehidupan bangsa. Bayangkan saja jika terus-menerus hidup dalam tawuran, ancaman, dan perkelahian; negara bisa porak-poranda, apalagi jika diperkuat oleh pihak pengadu domba. Bisa diprediksi persatuan dan kesatuan bangsa menjadi tidak utuh lagi. Bahaya pun mengancam negara.
Jika pemerintah begitu gencar dengan upaya-upaya perbaikan bangsa, mengembalikan karakter baik budaya leluhur bangsa Indonesia, baik itu dengan P5, Undang-Undang Sisdiknas, dan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menggariskan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kecerdasan spiritual, emosional, di samping kecerdasan berpikirnya, maka hal itu akan timpang jika siswa didik hanya diajar oleh para pendidik yang tidak menjunjung tinggi nilai karakter bangsa. Adanya fenomena pendidik di sekolah yang berkelompok-kelompok, satu sama lain menunjukkan persaingan kerja yang tidak sehat, kebiasaan bergunjing, dan berbicara kasar terhadap sesama pendidik ataupun kepada siswa. Hal semacam itu tentunya perlu adanya pembinaan dari pimpinan, termasuk memberikan keteladanan.
Upaya-upaya yang bisa dilakukan pimpinan sekolah untuk mempertahankan dan mengembalikan karakter baik bangsa antara lain dengan pelaksanaan salat duha bersama, mendatangkan penceramah atau memberdayakan guru yang ada sesuai bidangnya, serta merutinkan kebiasaan salam, senyum, dan sapa secara terprogram. Guru sebagai pendidik memimpin, siswa mengikuti. Guru jangan lalai menjawab sapaan siswa, jangan malah mengabaikan dan menyepelekan saking seriusnya berbincang dengan sesama guru.
Persaingan hidup memang terlihat berimbas pada dunia pendidikan; sikap siswa pun umumnya terdampak; mulai dari acuh tak acuh terhadap guru yang tidak mengajar di kelas, dianggap tidak penting, hingga bersikap materialistis. Mungkin ini terdampak oleh visi berdaya saing, namun penerapannya jadi salah kaprah. Guru hendaknya tidak memberi preseden buruk dengan menjadikan harta di rumahnya sebagai bahan obrolan di kelas, atau selalu memberikan reward dengan materi, sehingga berikutnya siswa selalu berharap mendapat reward itu berupa benda bukan cuma pujian atau hal lain. Sikap guru yang ingin menciptakan pembelajaran menyenangkan hendaknya tidak diejawantahkan dengan kedekatan yang berlebihan sehingga adakalanya bahasa pun tidak disaring; digunakan bahasa daerah yang terlampau bebas, seperti kepada kawan seusia. Apa pun dan di mana pun, etika tidak boleh dilanggar sehingga hubungan sosial tetap terjaga. Satu contoh, karena ingin menciptakan suasana yang gembira, akrab, dan seru, seorang guru menggunakan candaan yang berisi penghinaan kepada sesama guru, memberikan julukan yang tak pantas, atau bersikap mempermalukan. Siswa dilarang membuli, masa gurunya melakukan perundungan. Kebiasaan yang dilakukan karena dianggap biasa hendaknya dikaji lagi dan dikembalikan kepada tujuan ingin mempertahankan budaya baik leluhur.
Penulis Eka Rosmawati, M.Pd. (Eka Ros) adalah seorang guru di SMPN 3 Soreang. Dengan tulisan ini, ia mengajak guru lain untuk mensukseskan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai cara pemerintah mempertahankan nilai-nilai leluhur bangsa dan mengembangkannya lebih kuat lagi. Enam karakter dalam P5, seperti beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, mandiri, bergotong royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif, selayaknya diaplikasikan dan dibaurkan secara terus-menerus dalam kegiatan pembelajaran berkelanjutan.